Kompas, Senin, 22 September 2008 | 12:03 WIB
Oleh Lukas Adi Prasetya
Begitu mendengar kata puasa, benak orang langsung mengarah pada urusan menahan lapar dan haus, ditambah memperbanyak doa. Tentu itu bukan anggapan salah, tetapi kalau hanya sebatas itu arti puasa, belum menyentuh makna sesungguhnya.
Dalam berpuasa, manusia harus bisa mendapatkan pencerahan jiwa. Pada Diskusi Puasa dalam Berbagai Perspektif Agama yang diadakan Persaudaraan Indonesia (Persindo) DIY di Taman Kuliner, Sleman, Sabtu (20/9), puasa coba dimaknai dalam arti luas. Pembicara diskusi tersebut adalah sejumlah tokoh agama dan budaya.
Hadir Ketua Majelis Upacarika Budhayana Indonesia DIY Suryo Purnomo (Romo Joti), Ketua Komisi Kepemudaan Kevikepan DIY Romo Antonius Banu Kurnianto Pr, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia DIY Ida Bagus Agung, Santri Pondok Huffadh Bantul Syahrul Munir, serta Rio Erwin Setyawan dari kelompok budaya Komunitas Selasa Kliwonan. Dari sisi agama, puasa mempunyai aturan berbeda. Bagi umat Hindu, puasanya pada Nyepi dan malam Siwa. Namun, mereka boleh berpuasa pada hari weton kelahiran atau memilih hari.
Orang dewasa berpuasa sehari penuh, tetapi anak-anak separuh hari. Pemeluk Buddha berpuasa setiap tanggal 1, 8, 15, dan 23. Patokannya adalah umat Buddha tidak makan lagi setelah pukul 12.00, sedangkan bagi umat Muslim puasa wajib dilakukan selama bulan puasa. Mereka menahan lapar dari subuh hingga maghrib. Puasa di kalangan umat Katolik dianjurkan dari hari perayaan Rabu Abu hingga Jumat Agung (masa pra-Paskah) yang berdurasi lima pekan. Namun, yang terpenting hanya dua hari raya tersebut.
Aturannya, dalam sehari, makan kenyang hanya sekali. Menurut Ida, makna puasa ialah mengheningkan hati nurani. Ketika berpuasa, manusia makin kentara memenangkan naluri yang buruk atau yang baik. Lewat puasa, manusia mesti bisa menahan marah dan tidak iri hati, termasuk pada yang tidak berpuasa. Musuh utama orang berpuasa adalah diri sendiri, tuturnya. Romo Joti mengemukakan puasa harus menuju jantung pengajaran Buddha, yakni selalu berbuat baik. Tindakan ini harus dilakukan tanpa pamrih, tanpa memandang agama, suku, ras, maupun antargolongan. Sejenak merasa senang dengan melihat penderitaan orang lain, maka hati nurani manusia layak dipertanyakan.
Puasa, menurut Syahrul, adalah saat manusia disadarkan bahwa mereka bisa terjerumus jadi budak nafsu dan perut. Tujuan berpuasa untuk mencapai ketakwaan yang benar-benar sejati. Puasa merupakan masa pengendalian diri, yang dimulai dari mengendalikan hati. Hati adalah komandan, sedangkan tubuh adalah pasukan, ucapnya. Romo Banu mengatakan puasa hanya sepenggal masa agar manusia membaca diri sendiri, apa yang sudah dilakukan. Maksudnya, manusia disadarkan bahwa pergulatan jiwa senantiasa terjadi setiap hari, dari urusan membeli barang hingga berharap siapa yang mentraktir makan.
Jauh sebelum agama dikenal, orang Jawa sebenarnya sudah mengenal puasa sebagai salah satu laku prihatin dan mencapai ketenangan batin. Dalam menentukan hari berpuasa, orang Jawa zaman dulu bebas. Kapan pun mau, mereka berpuasa, tutur Rio. Makna luhur berpuasa pun, menurut Rio, sudah tercantum dalam Kitab Wulangreh dan terlantun dalam tembang Kinanthi.
Podho gulangan ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, ojo pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesti, pesunen sariranira, cegah dhahar lawan guling. Petikan tembang Kinanthi itu, garis besarnya bermakna demikian: latihlah hatimu, sehingga apa pun tindakanmu adalah benar, jangan hanya makan tidur, tetapi bersikaplah sebagai ksatria, manusia harus mengendalikan diri, mengurangi makan dan tidur.
Dalam agama dan selaras dengan budaya Jawa, puasa mengarahkan orang pada sikap satria. Manusia kemudian bisa lebih jujur dan jernih hatinya serta mau mengurangi urusan nafsu dan perut. Manusia dituntun menjadi satria yang segala tindakannya baik.
Advertisement